Berita & Event

Solusi Menggenjot Ekspor Kerajinan dan Mebel

Ekspor kerajinan
Ekspor mebel dan kerajinan tahun 2016 sekitar US$ 2,3 milyar dan tahun 2017 sekitar 2,4 milyar yang secara year on year hanya bertumbuh kurang dari 4 %. Padahal, HIMKI sudah mematok angka pertumbuhan ekspor di atas 12 – 16 % pertahun.

Masih jauh panggang dari api. Bicara soal potensi, Indonesia jelas memiliki segalanya. Limpahan bahan baku dari luas areal pemanfaatan hutan berkelanjutan, disertai keterampilan SDM yang mumpuni, tak seharusnya jadi faktor paradoks penurunan angka ekspor.

Terlebih faktanya, sentra produksi mebel dan kerajinan yang makin merata di wilayah Nusantara dan kian membaiknya iklim investasi yang disokong Pemerintah. Secara umum, industri mebel dan kerajinan dalam negeri semestinya “moncer” dan kian berkembang.

Dukungan Pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo (yang memiliki background pengusaha mebel) selayaknya kian menumbuhkan keoptimisan dalam pengembangan sektor industri kreatif yang satu ini.

Seperti halnya pelaku industri mebel dan kerajinan yang tergabung dalam HIMKI yang menyatakan keoptimisan bahwa sektor ini dalam empat tahun ke depan mampu meraup US$ 5 milyar dari hasil ekspor.

Kemajuan sektor industri inilah yang menjadi visi pembentukan HIMKI. Tak hanya memajukan namun juga berupaya membantu wujudkan ambisi industri mebel dan kerajinan Indonesia jadi peringkat 5 besar dunia pengekspor olahan kayu dan rotan. Alhasil, tentunya ini tidak hanya berimbas pada kemajuan industri mebel dan kerajinan, tapi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Syarat pertama adalah kecukupan suplai bahan baku. Industri dan bahan baku bak dua sisi keping uang. Saling membutuhkan. Apalagi jika Pemerintah tetap berkeinginan bila ekspor Indonesia di ragam bidang merupakan ekspor barang olahan yang bernilai tambah.

Untuk mengawal kecukupan suplai bahan baku dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, Pemerintah perlu menjamin ketersediaan bahan baku yaitu kayu dan rotan lewat regulasi. Dalam konteks ini mengacu pada Undang-undang Industri No 3 Pasal 32 Tahun 2014.

Kedua, di lapangan, industri mebel dan kerajinan bersinggungan dengan industri penyokong di dalam negeri. Sehingga tak berlebihan bila industri ini perlu industri pendukung yang berkembang. Dalam konteks ini, insentif yang diberikan Pemerintah pada industri pendukung sangat berperan menunjang kemajuan industri utama. Industri seperti aksesoris dan komponen. Sudah tak lagi jamannya bahan baku industri bergantung pada impor. Mubazir devisa.

Ketiga, tak bisa dipungkiri, persaingan produk skala global mensyaratkan inovasi dan pengembangan kreatif desain. Karena peka kebutuhan pasar adalah kemutlakan yang tak bisa disangkal. Kreativitas desain salah satu poin kunci sukses bersaing di pasar global.

Diharapkan Pemerintah mampu mewadahinya melalui creative center sebagai pusat pengembangan kreativitas dan sekaligus penyuluhan soal perlindungan hak cipta (HAKI) pada hasil karya di wilayah-wilayah basis produksi. Sadar kreativitas ini niscaya memicu kemandirian dalam hal suplai desain.

Institusi desain ini harus dikelola secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal ini mutlak diperlukan sebagai syarat utama terbentuknya daya saing industri yang ditopang oleh kualitas desain produk yang layak pasar.

Keempat, jangan remehkan soal teknologi alat produksi. Pemerintah pun diharapkan perannya untuk penyusunan regulasi terkait bantuan subsidi peremajaan peralatan produksi agar produk industri bisa bersaing secara fair di pasar global. Subsidi dimaksud berkenaan dengan pengadaan teknologi alat terbaru. Dengan subsidi ini, proses peremajaan berjalan cepat, karena harga mesin pun jadi terjangkau para pelaku industri.

Tentunya dengan teknologi peralatan produksi dimaksud unit usaha bakal leluasa menyesuaikan spesifikasi produk yang prosesnya lebih efisien sesuai kebutuhan pasar. Desakan pasar pula yang menuntut penerapan teknologi terbaru ini tak bisa ditunda. Akselarasi teknologi yang diadopsi banyak produsen global sudah semestinya diimbangi oleh produsen lokal yang bermutu produk internasional.

Kelima, selain faktor internal industri, faktor eksternal turut berperan percepat daya saing industri. Salah satunya pengembangan klaster industri terpadu modern yang sejenis dengan kawasan berikat. Untuk itu diperlukan regulasi yang mendorong pembangunan infrastruktur berupa pusat kawasan industri mebel dan kerajinan yang terintegrasi di tiga provinsi utama, yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tujuannya jelas untuk mendongkrak volume produksi dan meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *